Kala sang surya tersenyum cerah bayu berdendang semilir sepoi terdengar suara nyanyian burung syahdu, bergelayut awan menutupi langit biru. Dalam nuansa alam yang penuh sejuta panorama mengiringi kepulangan seorang santri ( K.H MOH. MANSHUR HAMID ) dari penghembaraan suci. Sampailah disuatu rumah yang sederhana namun sangat bersahaja.
Pada suatu hari datanglah seorang kyai yang aneh (khowariqul adah ) yang bernama Mbah sahlan dari desa sidorangu krian Sidoarjo, konon menurut sebuah cerita beliau termasuk Waliulloh,begitu datang beliau langsung menancapkan turus ( jawa ) yaitu sebuah pohon yang biasa ditanam pada batas pekarangan seseorang sedang menurut pengadatan dan kebiasaan yang berada dikediaman orang tua beliau dan sekitarnya, turus itu tidak ada yang ditanam dari kayu jati, justru Mbah sahlan menanamnya. Ini merupakan sebuah isyarat namun pada saat itu tidak ada yang mampu menterjemahkannya.
Tentang kejadian itu boleh dibilang tabu. Tidak lama kemudian Mbah sahlan langsung bertanya-tanya
“ endi manshur, endi mansur.....? “ ayahnya menjawab, karena ketika itu beliau masih dalam naungan kedua orang tua beliau “ ono opo, manshur iku anakku “ kemudian Mbah sahlan lenyap tanpa tanda.
Mungkin dari saecuil cerita inilah kita dapat mengambil sebuah faidah bahwa pada dasarnya jika sesuiatu perkara yang mempunyai nilai dan drajat yang baik dandiinginkan oleh Alloh, pasti ada sesuatu atau mingkin ada orang yang akan mengingatkannya sebagai sebuah kelestarian yang saling berurutan.
Sebagai jawaban dari apa yang dipesankan oleh gurunya ( K.H.ROMLI TAMIM ) beliaupun mulai berhidmah di Madrasah dan pesantren Kyai Bahri dan Kyai Karim ( keduanya adalah guru beliau semasa kecil ). Demikian hari-hari beliau jalani hingga pada akhirnya tergugah hati beliau untuk mengumpulkan pemuda-pemuda desanya yang masih awam dalam hal pengetahuan tentang nilai-nilai agama, untuk selanjutnya dibimbing serta diarahkan pada sebuah ajaran yang belum pernah mereka kecap selama ini. Pengajian itu berlangsung malam hari, karena umumnya para pemuda pada saat itu harus membantu kedua orang tua disiang hari, baru pada malam harinya ada kesempatan luang yang tidak disia-siakan oleh beliau. Dan tempatnya adalah rumah orang tua beliau sendiri.
Hari demi hari semakin bertambah pemuda yang mengaji pada beliau, akhirnya sarana dan tempatnyapun tidak cukup untuk menampung.kemudian beliau mengambil suatu kebijakan yaitu mendirikan madrasah yang waktunya adalah siang hari sektar tahun 1958. Inilah embrio ( cikal bakal ) yang pada akhirnya sebuah pengajian sederhana tersebut berubah menjadi sebuah lembaga dan yayasan yang tidak hanya dikenal di daerah sekitar, bahkan diluar daerah mojosari.
Semerbak bau harum dari Madrasah yang semula hanya dicium oleh 29 anak didik saja akhirnyapun tak dapat di pungkiri dan dicegah, walhasil karena saking banyaknya anak yang jauh -jauh datang kerumah beliau tak mungkin bagi mereka untuk setiap hari pulang pergi belajar dengan jarak yang sangat jauh, maka secara resmi pada tahun 1961 Kyai H. Moh Manshur Hamid membuka pondok pesantrendengan jumlah santri 9anak. Hingga saat ini pondok pesantren Mamba’ul Ulum menjadi lembaga yang tersohor dan gemerlap fasilitas didalamnya yang terlihat sangat megah dan tampak dihuni oleh ribuan santri dan mendorong hati untuk ta’jub, tertarik menyapanya.
0 komentar:
Posting Komentar