Awang-awang lazimnya orang menyebut pontren MU sebuah lembaga pendidikan yang pada mulanya hanya tercium 29 tholabah. Seiring berputarnya poros waktu MU semakin berkembang sebagai tempat “Tholabul Ilmi” yang tersohor. Bangunan yang begitu megah dan pondasi yang kuat, semua itu tidak muda yang kita hayalkan tapi melalui berbagai ujian dan cobaan yang menghadang.
Semuanya berawal pada tujuh puluh tiga tahun silam, tepatnya tanggal 23 September 1933 M disebuah rumah yang sedikit megah namun sederhana di desa awang-awang, terlahir seorang anak yang pada saatnya kelak dikenal dengan nama K.H. Moh. Manshur Hamid yang pada saat ini merupakan perintis sekaligus pengasuh sebuah lembaga pendidikan agama yang berkemasyarakatan. Kesemuanya bermuara dari sikap tegas kedua orang tua beliau yang sangat disiplin dalam membimbing putra-putrinya dengan berbagai ilmu agama maupun pendidikan formal yang kesemuanya faktor penting dalam taraf pembelajaran dalam membekali seorang anak untuk mewujudkan kader yang produktif yang kelak dapat meneruskan jejak perjuangan kedua orang tuanya.
Jejak panjang penelusuran pendidikan beliau baru mulai dari madrasah ibtida’iyah di desa Kauman Mojosari tahun 1943 hingga tahun 1949 sesaat setelah tamat dari madrasah tersebut beliau meniti jejak dan perilaku dari sebagian kyai, yakni mondok di pesantren Darul Hikmah di desa Sawahan Mojosari yang diasuh oleh K.H. Bahri, rutinitas tersebut dijalankan beliau hingga kurang lebih hingga empat atau lima tahun, mungkin masih merasa kurang puas dengan hasil yang telah dicapai dari pondok tersebut, akhirnya beliau meneruskan di pondok Darul Ulum Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun1955, di pesantren yang diasuh K.H. Romly Tamim tersebut sangat terkenal dikalangan teman-teman beliau sebagai seorang yang mempunyai sosok kepribadian yang sangat kokoh dan ulet dalam segala hal termasuk dibidang salafy yang telah didapatkan beliau sewaktu masih berada di rumah. Pada saat beliau berada di pesantren inilah muncul sebuah cerita yang boleh dibilanh agak unik untuk dicermati berawal dari situasi dimana bangsa kita kita pada saat itu yang masih dalam perjuangan untuk mewujudkan niat suci yakni memerdekakan bangsa dari kaum penjajah sehingga muncul falsafah “barang siapa yang menyerupai pada suatu kaum berarti dia termasuk didalamnya”.
Falsafah inilah yang menjadi dasar para ulama pada saat itu untuk mengharamkan pakai celana (pantolan) dasi dll. Nampaknya faham tersebut telah menggema ke seluruh pelosok tanah air dan menjadi sebuah mitos yang dibuat pegangan oleh semua kalangan masyarakat dikala itu, tanpa terkecuali kedua orang tua beliau, sehingga pada suatu hari disaat beliau pulang/sambang (menurut lazimnya di pesantren), beliau ketahuan memakai celana oleh kedua orang tuanya, maka secara tidak langsung kedua orang tua beliau langsung menyuruh boyong (berhenti mondok), sebagai anak yang patuh dan ta’at kepada orang tua beliaupun rela meninggalkan pondok yang disayanginya, dengan rasa berat hati serta mengharap do’a restu dari sang guru (K.H. Romly) kemudian beliau berpamitan untuk pulang kembali kepada pangkuan kedua orang tua beliau yang tercinta.
Dengan ketulusan hati dan keridlo’an K.H. Romly yang merupkan guru beliau sekaligus pengasuh pondok “Darul Ulum” itu akhirnya memberikan izin dan do’a restu kepada beliau sebagai modal sesampainya di rumah dalam berjuang ditengah-tengah masyarakat, dan ternyata do’a tersebut diamini oleh semua jama’ah yang hadir bertepatan dengan acara bai’atan thoriqot wan naqsabandiyah yang dipimpin langsung K.H. Romly Tamim sendiri, K.H. Romly pun berpesan kepada K.H. Manshur Hamid kelak di desanya agar mendirikan pesantren dan madrasah.
Hanya berbekal do’a dan ridlo dari sang guru, beliau punya kemantapan hati untuk melanjutkan apa yang telah dipesankan oleh gurunya, inilah sebuah realita (kenyataan hidup) bahwa faktor barokah seorang guru adalah menjadi pundi-pundi yang sangat penting bagi keberhasilan seorang murid dalam membentuk karakter perilaku dan kepribadiannya

0 komentar:
Posting Komentar