Latar Belakang Berdirinya :
Sejalan dengan perkembangan zaman, semakin melemah pula pengetahuan tentang ilmu agama. Disisi lain, ketenaran nama “ Mamba’ul Ulum” mulai melambung di jagat raya, akan tetapi manakala diamati, semakin tampaklah kekurangan yang melekat didalamnya. Terlihat dari segi pendidikan agama dikala itu program serta fasilitasnya masih amat lesu yang membuat riuh para santri dalam menguras ilmu. Dan pada akhirnya terktuklah hati bapak pengasuh untuk segera menuti hasrat serta keinginan para santri guna untuk memuncakkan mutu dan kwalitas para santri dengan cara mendirikan madrasah salafiyah.
Hal ini tidak terlepas dari hadirnya menantu beliau di penghujung tahun 1992 yakni bapak Dzannuroini Ma’shum. Yang kenal lengket dalam dunia pendidikan model salafiyah semasa bermukim di pesantren lirboyo kediri. Maka pada tanggal 06-Dzulqo’dah 1413 H, bertepatan pada hari rabu pahing tanggal 28-April-1993. Dengan dasar niat yang ikhlas demi mencapai Ridlo-Nya semata KH. Moh. Manshur hamid meresmikan madrasah salafiyah Mamba’ul ulum.
Untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar,, maka diterjunkanlah tenaga pengajar yang satu daerah dengan menantu beliau serta satu produk dari pesantren lirboyo yaitu bapak Maghfur Aly, disamping itu juga terdapat tenaga pengajar lokal diantaranya:
1. Bapak Ahmadi Sulaiman
2. Bapak Abdul Wahab BA
3. Bapak Abdur Rohman salam
4. Ibu hj. Nur Shofiyah
5. Ibu Hj. Nur Khotimah
Semua ini dapat terwujud dengan adanya niat yang suci serta dengan menguras biaya dan tenaga yang besar baik secara dhohir maupun bathin.
Perjuangan Awal Yang Penuh Rintangan
Kesulitan, kerisauhan dan ketengan yang memberatkan jiwa serta warna-warni kebahagiaan semua mengalir dalam jalannya revolusi kehidupan. Dan hambatan pastilah senantiasa menghadang, terlebih lagi saat awal perjalanan sebuah lembaga pendidikan. Sehingga maklum adanya hal baru yang masih asing jika disikapi dengan adaptasi yang memakan waktu yang cukup lama. Maka tak dapat dipungkiri jika suatu saat timbul berbagai macam penghadang baik, secara spontan ataupun berangsur yang sempat mengusik konsentrasi belajar.
Awal perjalanan madrasah salafiyah tidak semulus dengan apa yang dirasakan
sekarang ini. Semuanya pasti menelusuri duri serta terombang ambing ketidak pastian kondisi yang selalu menjadi misteri. Memang mendirikan lembaga pendidikan tidaklah semudah membalik tangan. Maka wajarlah jika perkembangannya terus mengalami perubahan sebab seluruhnya masih dalam siklus penjajakan, seperti halnya program madrasah salafiyah yang awalnya terdiri dari dua jenjang yaitu : Tsanawiyah dan Aliyah. Akan tetapi karena jenjang tersebut kurang sesuai dengan sebagaian santri yang terbilang baru akhirnya diambil kebijakan untuk menambah tingkat yang lebih dasar yaitu Al- I’dadiyah (sp) yang dikhususkan bagi para santri pemula. Disisi lain, waktu belajar mengajar masih belum tersusun rapi ada yang mulai ada yang mulai dari jam 07. 00 s/d 10.00. Adapula yang sore hari dari jam 13.00 s/d 16.30 semua itu disebabkan oleh adanya faktor waktu dan tempat yang bergantian dengan madrasah formal.
Agar niat yang luhur tersebut tercapai Bapak A. Dzannuroini Ma’shum selalu mananamkan kepada para mu’allim agar tetap tegar, sabar serta memiliki semangat pantang menyerah dengan perkataan beliau yang penuh arti yaitu “ seng penting niat ibadah seng apik lan banyu bening kuwi digole’i wong akeh ”. Dengan kata lembut itulah kerap kali melahirkan semangat baru di setiap detik-detik perjuangan.
Malam yang penuh sinar rembulan
Setiap masalah yang datang pasti menyimpan sebuah hikmah . Terbukti dengan tak henti-hentinya Mamba’ul Ulum melahirkan hal-hal baru dalam berbagai aspek yang bersifat membangun demi meningkatkan proses belajar mengajar.
Awal pembaharuan itu terjadi seirung dengan semakin banyaknya santri yang datang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu pada bulan Juli 1993. Adapun yang dilakukan oleh madrasah pada saat itu antara lain :
1. Menambah tenaga pengajar tepatnya pada tanggal 15 Juli 1993, didatangkan dari pesantren Pacul Gowang Jombang yakni Bapak Syamsuri Rozaq dan satu minggu kemudian didatangkan lagi Bapak Mudlofah Khan dari pesantren Lirboyo serta dua ustadzah dari Gresik yakni Ibu Nur Dluhah dan dari Malang yakni Ibu Umi Nur Mufarikhah.
2. Menambah jenjang yang lebih dasar yakni madrasah i’dadiyah ( SP ) yang sistemnya berbasis menuntun santri pemula guna mengenal lebih dekat bahasa kitab. Serta menancapkan akhlakul karimah dalam jiwa mereka.
3. Menambah lokal yang semula hanya tiga lokal menjadi lima lokal yakni : SP satu lokal, satu Tsanawiyah tiga lokal dan dua Tsanawiyah satu lokal.
4. Memutuskan mengadakan semester ganjil di akhir kwartal dua dan semester genap di penghujung tahun.
5. Merumuskan kurikulum yang lebih sesuai dengan jangkauan dari masa ke masa.
Malam yang penuh hikmah
Karena siswa baru baik formal maupun salafiyah bertambah banyak di pertengahan tahun 1994, maka madrasah salafiyahpun mengalami perubahan yang asalnya masuk pagi dan sore menjadi malam hari mulai jam 19.30 sampai 22.00 wib.
Sebagai penyeimbang atas banyaknya santri yang datang, maka didatangkan tiga tenaga pengajar baru yakni :
1. Bapak Drs. Moh. Alwin AR dari pesantren Lirboyo.
2. Bapak Syai’in Syafi’i (alm) dari pesantren Mojogeneng.
3. Bapak Saiful Ghozi dari pesantren Mamba’ul Ulum.
Dengan situasi seperti itulah para santri merasa lebih nyaman serta lebih fres dalam berfikir setelah seharian terfokus pada pendidikan formal. Wal khasil di akhir tahun pelajaran 1994/1995 MaSaMu (Madrasah Salafiyah Mamba’ul Ulum) mampu menampakkan potensi dan kualitas seperti ter-raihnya piala dari berbagai macam prestasi serta penghargaan yang diselenggarakan Depag Kabupaten Mojokerto.
Ditahun ini madrasah Salafiyah juga mewisuda purnawiyatawan amrithy yang pertama kali dengan jumlah santri sebanyak 13 anak, yang melanjutkan ke jenjang Alfiyah 5 anak. Momen ini tergolong suatu prestasi yang patut diacungi jempol dari perjalanannya yang baru mencapai usia 3 tahun. Dimasa-masa inilah madrasah salafiyah menerkam puncak kejayaannya. Terbukti dengan persaingan serta prestasi para santri yang semakin meningkat. Mencucurnya berbagai aral rintangan terasa kembali mengusik perjalanan madrasah salafiyah, namun disadari bahwa semua itu adalah badai yang harus diterjang demi menggapai hikmah yang tinggi. Peristiwa itu diawali dengan dentuman-dentuman peralihan yang dipelopori oleh reformis sehingga mampu menggulungkan pemerintahan orde baru. Momen ini terjadi di luar pesantren akan tetapi secara berangsur menggoreskan dampak perubahan dalam madrasah salafiyah. Disamping itu jumlah para santri mengalami penurunan sehingga bapak pemimpin dan pengasuh merumuskan suatu keputusan untuk merubah jam masuk salafiyah, yang semula masuk malam berubah siang hari. Mulai pukul 13.00-16.30 WIB. Dengan rumusan inilah para asatidz harus lebih meningkatkan kerja keras untuk menghadapi perubahan tersebut.
Disamping itu jumlah para santri mengalami penurunan sehingga bapak pemimpin dan pengasuh merumuskan suatu keputusan untuk merubah jam masuk salafiyah, yang semula masuk malam berubah siang hari. Mulai pukul 13.00-16.30 WIB. Dengan rumusan inilah para asatidz harus lebih meningkatkan kerja keras untuk menghadapi perubahan tersebut.
Mempersiapkan Diri Sebagai Insan Yang Tangguh Ditengah Masyarakat
Disela aktifitas “Ta’lim wat ta’allim” para mufattis,asatidz dan santri-santri harus berperang melawan panasnya terik matahari yang seakan-akan memecah isi bumi, maka tak heranlah jika derasnya keringat mencucur diraut wajah mereka. Akan tetapi, dengan berpedoman “’ala qodri ta’ab” (imbalan atau pahala itu diukur sesuai dengan kadar kesulitan atau kepayahan) merekapun tanpa mengenal lelah dan putus asa dalam menguras ilmu yang sebanyak-banyaknya. Meskipun berbagai aral rintangan selalu nampak di depan mata. Inilah sekilas fenomena yang melukiskan jati diri sebenarnya dari MASAMU (Madrasah Salafiyah Mamba’ul Ulum)yang menggoreskan tinta emas didalamnya. Sehingga dapat dijadikan cambuk untuk menuju hidup yang berfaidah. Tenaga pengajar yang terorganisasi dan tertata rapi sangatlah menentukan kemajuan suatu lembaga pendidikan, maka secara garis besar madrasah salafiyah memakai sistem Mustahiq dan Munawib. Mustahiq adalah guru tetap atau lazimya disebut wali kelas yang selalu mendampingi anak didiknya mulai awal hingga tamat dan memegang dari sebagian besar mata pelajaran. Sedangkan Munawib adalah guru yang tidak memegang seluruh mata pelajaran akan tetepi hanya sebagian fann ilmu saja. Sistem tersebut dapat terwujud jika ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan mengklasifikasi serta mendesain seluruh kebijakan tersebut. Dan untuk menindak lanjuti dari apa yang sudah terlaksana. Maka bulan agustus 1999 madrasah salafiyah membentuk sebuah majelis musyawaroh qubro, batsul masa’il dan majelis musyawaroh fathul mu’in. Dengan adanya posisi ingin maju, para santripun ikut berpartisipasi dalam meningkatkan laju pendidikan madrasah dengan mengadakan forum diskusi Qowa’idul Fiqhiyah, kemudian ditahun berikutnya disusul oleh kakak-kakak kelas yang sudah tamat yang memiliki kreatifitas membentuk forum diskusi fathul qorib dan fathul mu’in sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan wawasan dari apa yang sudah diperoleh dibangku salafiyah. Terkhusus pada bulan suci romadlon segala model kegiatan difokuskan pada pengajian-pengajian kitab kuning (ngaji kilatan) sehingga lazim jika dikatakan tiada waktu tanpa mengaji. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 20 hari, yang dimulai dari seusai sholat shubuh hingga malam ba’dha sholat tarawih. Sehingga tak asing lagi jika terdengar kata “ngaji maneh-ngaji maneh” yang terucap dari sebagian para santri yang mulai lelah dibuatnya. Dan masih banyak pengajian pada tiap harinya mulai dari kitab tafsir jalalain ba’dha shubuh, ilmu mawaris ba’dha maghrib serta pengajian al-Quran baik yang dimulai ba’dha shubuh, maghrib maupun isya’. Sampai pada pembacaan ‘aurad (wirid-wirid bersama) yang dilaksanakan di dalam pondok.
Terkhusus pada bulan suci romadlon segala model kegiatan difokuskan pada pengajian-pengajian kitab kuning (ngaji kilatan) sehingga lazim jika dikatakan tiada waktu tanpa mengaji. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 20 hari, yang dimulai dari seusai sholat shubuh hingga malam ba’dha sholat tarawih. Sehingga tak asing lagi jika terdengar kata “ngaji maneh-ngaji maneh” yang terucap dari sebagian para santri yang mulai lelah dibuatnya. Dan masih banyak pengajian pada tiap harinya mulai dari kitab tafsir jalalain ba’dha shubuh, ilmu mawaris ba’dha maghrib serta pengajian al-Quran baik yang dimulai ba’dha shubuh, maghrib maupun isya’. Sampai pada pembacaan ‘aurad (wirid-wirid bersama) yang dilaksanakan di dalam pondok.
Semua itu dijalani demi meningkatkan mutu dan kualitas para santri agar mereka tidak terbelakang dalam mengarungi zaman modern yang serba “Wah.....” Serta mempermudah para santri untuk berkomukasi dan beradaptasi guna mengamalkan ilmunya ditengah-tengah masyarakat. Demikianlah cerita singkat sejarah perjalanan madrasah salafiyah “Mamba’ul Ulum” yang kini memasuki usia 19 tahun (2012) dengan penuh harap agar dapat dijadikan tauladan sebagai bekal untuk menyongsong masa depan yang penuh tantangan. Serta meneruskan cita-cita suci, pemegang obor dan pembawa tongkat estafet dari ulama’us sholikhin yang telah mendahului kita. Amiin.....................
0 komentar:
Posting Komentar